Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), kisah sukses Marta Bata dan Bata Chicken menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha lokal. Marta Bata, sebuah usaha kecil yang bergerak di bidang produksi batu bata, dan Bata Chicken, peternakan ayam broiler lokal, telah menunjukkan bahwa kerja keras dan kreativitas dapat membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Marta Bata didirikan oleh Marta Domi, warga asli desa Oelmasi, Kupang, yang memulai usahanya sejak 2012. Berawal dari kebutuhan akan bahan bangunan murah di kawasan pedesaan, Marta melihat peluang bisnis pembuatan batu bata manual. Dengan modal berupa lahan kosong dan keterampilan membuat bata yang diwariskan keluarga, Marta memproduksi batu bata dari tanah liat lokal.
Marta sempat mengalami berbagai kendala, mulai dari musim hujan yang menghambat proses pengeringan bata hingga kesulitan dalam memasarkan produknya. Namun, dengan semangat pantang menyerah, ia memanfaatkan media sosial lokal dan jaringan pertemanan untuk memperluas pasar. Seiring waktu, kualitas bata yang dibuat Marta semakin dikenal, dan permintaan terus bertambah.
Di tahun-tahun awal, Marta melakukan inovasi dengan memperbaiki kualitas tanah liat dan memastikan proses pembakaran dilakukan secara konsisten. Ia juga melibatkan masyarakat desa dalam proses produksi, sehingga tercipta lapangan kerja baru bagi warga sekitar. Marta membentuk kelompok kerja dengan sistem bagi hasil, sehingga usaha bata ini berdampak pada peningkatan ekonomi lokal.
Tidak berhenti di situ, Marta mulai menggandeng toko bangunan di Kupang dan sekitarnya sebagai mitra distribusi. Produk batu bata dari Marta Bata kini digunakan dalam pembangunan rumah, sekolah, dan fasilitas umum di NTT. Produksi mencapai 60.000 bata per bulan, dan terus berkembang hingga menjadi salah satu produsen bata terbesar di wilayah tersebut.
Melihat keberhasilan usaha bata, Marta ingin menambah sumber pendapatannya. Tahun 2017, ia memulai Bata Chicken setelah mendapat pelatihan peternakan dari Dinas Peternakan setempat. Ia membeli 400 ekor bibit ayam broiler, membangun kandang sederhana di samping rumah, dan mulai mengelola beternakan secara mandiri.
Batu bata yang dihasilkan dari Marta Bata digunakan sebagai bahan utama untuk membangun kandang dan fasilitas pendukung. Marta benar-benar memanfaatkan sinergi antara dua usaha miliknya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan biaya.
Bata Chicken menggunakan sistem beternak yang ramah lingkungan, memanfaatkan limbah organik dari usaha bata untuk pupuk kandang. Marta juga melatih beberapa warga desa untuk mengelola peternakan ayam secara profesional agar hasil panen ayam broiler dapat maksimal.
Dari 400 ekor ayam di awal, Bata Chicken kini berkembang pesat dengan kapasitas hingga 2500 ekor per siklus panen. Meningkatnya permintaan ayam broiler segar di Kupang dan kota-kota kecil NTT membuat Bata Chicken menjadi salah satu pemasok utama bagi pedagang, restoran, bahkan rumah sakit.
Marta tidak hanya memperhatikan keuntungan pribadi, namun juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa. Ia membuka kesempatan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga dan pemuda desa yang sebelumnya kesulitan mencari penghasilan. Mereka dilatih mulai dari proses produksi batu bata hingga mengelola kandang ayam.
Usaha Marta juga membawa perubahan dalam hal sanitasi dan lingkungan. Limbah usaha batu bata dan peternakan diolah menjadi kompos dan pupuk organik, sehingga membantu pertanian lokal. Pendekatan holistik ini membuat Marta mendapat penghargaan dari pemerintah daerah sebagai pengusaha tangguh dan inovatif.
Kehadiran Bata Chicken turut menambah asupan protein bagi masyarakat, sehingga kesehatan dan gizi keluarga di Oelmasi dan sekitarnya meningkat.
Marta membagikan beberapa tips yang bisa menjadi pelajaran bagi pelaku usaha di daerah rural:
Marta merencanakan ekspansi usaha dengan meningkatkan kapasitas produksi batu bata dan memperluas distribusi ayam broiler ke luar NTT. Ia juga ingin membangun fasilitas pelatihan bagi para pemuda desa agar bisa belajar soal kewirausahaan dan keterampilan teknis produksi, baik di bidang bata maupun sektor peternakan.
Marta berharap usahanya dapat menjadi model inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia, sehingga masyarakat di wilayah rural lebih percaya diri mencoba dan mengembangkan bisnis kecil.
Kisah sukses Marta Bata dan Bata Chicken membuktikan bahwa jiwa wirausaha, kerja keras, dan sinergi antar sektor bisnis dapat menghadirkan peluang ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Perjalanan Marta menjadi cermin bahwa tantangan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk menciptakan inovasi dan solusi baru.
Marta berharap semakin banyak masyarakat berani memulai usaha, mengembangkan keterampilan, dan berkontribusi bagi lingkungan dan sesama. Marta Bata dan Bata Chicken kini bukan hanya bisnis keluarga, tetapi telah mengubah perekonomian dan kehidupan di desa Oelmasi, menjadi bukti nyata bahwa impian bisa diwujudkan melalui kerja keras dan dedikasi.